Translate

Senin, 29 Februari 2016

Sakralnya Prosesi Pernikahan Adat Jawa

    Budaya tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah masih menyimpan sejuta keindahan dan keagungan yang tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dari upacara keagamaan, hari besar Islam, upacara pernikahan dan upacara adat lain yang sakral, unik dan penuh makna. Yang akan saya bahas kali ini adalah tentang prosesi pernikahan adat Jawa Solo yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya, yang akan saya paparkan dalam 5 babak.

BABAK I
PEMBICARAAN

Yaitu tahap pembicaraan antara pihak yang akan punya hajat mantu dengan pihak calon besan, mulai dari pembicaraan pertama sampai tingkat melamar dan menentukan hari penentu (gethok dina).

1. Congkog
Seorang perwakilan/duta yang diutus untuk menanyakan dan mencari informasi tentang kondisi dan situasi calon besan yang putrinya akan dilamar. Tugas duta yang utama ialah menanyakan status calon mempelai perempuan, masih sendiri atau sudah ada pihak yang mengikat.

2.  Salar
Jawaban pada acara Congkog akan ditanyakan pada acara Salar yang dilakasanakan oleh seorang duta, baik oleh duta pertama atau orang lain.

3. Nontoni
Setelah calin besan memeberikan lampu hijau kepada calon mempelai pria, maka orang tua keluarga besar beserta calon mempelai pria datang berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk saling "dipertontonkan". Dalam kesempatan ini orang tua dapat membaca kepribadian, bentuk fisik, raut muka, gerak - gerik dan hal lainnya dari si calon menantu.

4. Nglamar
Utusan dari orangtua calon mempelai pria datang melamar pada hari yang telah ditetapkan. Biasanya sekaligus menentukan waktu hari pernikahan dan kapan dilakukan rangkaian upacara pernikahan.

BABAK II
TAHAP KESAKSIAN

1. Srah - srahan


Prosesi srah-srahan adat Jawa
Yaitu menyerahkan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarakan pelaksanaan acara sampai hajat berakhir. Untuk itu diadakan simbol-simbol barang-barang yang mempunyai arti dan makna khusus, berupa cincin, seperangkat busana putri, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih dan uang. Adapun makna dan maksud benda - benda tersebut adalah :
  • Cincin emas, yang dibuat bulat tidak ada putusnya,maknanya agar cinta mereka abadi tidak terputus sepanjang hidup
  • Seperangkat busana putri, bermakna masing-masing pihak harus pandai menyimpan rahasia terhadap orang lain.
  • Perhiasan, yang terbuat dari emas, intan dan berlian, mengandung makna agar calon pengantin putri selalu berusaha untuk tetap bersinar dan tidak membuat kecewa.
  • Makanan tradisional,  terdiri dari jadah, wajik, lapis dan jenang, semuanya terbuat dari beras ketan. Beras ketan sebelumnya dimasak hambur, tetapi setelah dimasak menjadi lengket. Begitu pula harapan yang tersirat, semoga cinta kedua calon pengantin selalu lengket selama-lamanya.
  • Buah-buahan, bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.
  • Daun sirih, daun ini muka dan punggungnya berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya, hal ini bermakna satu hati berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan.

Contoh barang-barang yang dibawa saat prosesi srah-srahan

2. Peningset
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan yang ditandai dengan tukar cincin antara kedua calon pengantin.

3. Asok tukon
Penyerahan dana berupa uang sejumlah uang untuk membantu meringankan keuangan keluarga pengantin putri.

4. Paseksen
Yaitu proses permohonan doa restu dan yang menjadi saksi acara ini adalah mereka yang hadir. Selain itu juga ada pihak yang ditunjuk menjadi saksi secara khusus yang mendapat ucapan terimakasih yang dinamakan Tembaga Miring (berupa uang dari pihak calon besan).

4. Gethok dina
Menetapkan kepastian hari untuk ijab qobul dalam resepsi, untuk mencari hari, tanggal, bulan, biasanya dimintakan saran kepada orang yang ahli dalam perhitungan Jawa.

BABAK III 
TAHAP SIAGA


Pada tahap ini, yang akan punya hajat mengundang para sesepuh dan sanak saudara untuk membentuk panitia guna melaksanakan kegiatan acara-acara pada waktu sebelum, saat hajatan dan sesudah hajatan.

1. Sedhahan
Mencakup pembuatan hingga pembagian surat undangan.

2. Kumbakarnan
Pertemuan untuk membentuk panitia hajatan dengan mengundang sanak saudara, keluarga, tetangga dan kenalan. Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.

3. Jenggolan atau Jonggolan
Calon mempelai melapor ke KUA. Tata cara ini sering disebut tandhakan atau tandhan, artinya memberitahukan dan melaporkan pada pihak kantor pencatat sipil bahwa akan ada hajatan pernikhan yang dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan.

BABAK IV
TAHAP RANGKAIAN UPACARA

1. Pemasangan Tratag dan Tarub

Contoh bentuk tarub
Merupakan tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu pada masyarakat. Tarub berarti hiasan janur kuning atau daun kelapa muda yang di suwir-suwir(di sobek - sobek) yang di pasang pada sisi tratag serta ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi agar terlihat meriah. Atau Tarub disebut juga dekorasi tumbuhan yang terdiri dari :
  • Pohon pisang dan buah pisang, artinya suami akan menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan bermasyarakat . Seperti pohon pisang yang yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungan, keluarga baru ini juga akan hidup bahagia, sejahtera dan rukun dengan lingkungan sekitar.
  • Sepasang tebu wulung, pohon tebu yang berwarna kemerahan, merupakan simbol mantapnya kalbu, pasangan baru ini akan membina dengan sepenuh hati keluarga mereka.
  • Cengkir gading (kelapa kecil berwarna kuning), melambangkan kuatnya pikiran baik, sehingga pasangan ini dengan sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama yang saling mencintai.
  • Dedaunan segar, seperti beringin, mojokoro, alang-alang dan dadap srep, merupakan harapan agar pasangan ini hidup dan tumbuh dalam keluarga yang selalu selamat dan sejahtera.
  • Anyaman daun kelapa (bleketep), yang digantung di gapura depan rumah, ini bertujuan untuk mengusir segala gangguan dan roh jahat sekaligus menjadi pertanda bahwa dirumah tersebut sedang dilakukan upacara perkawinan.
pemasangan bleketep
      Biasanya sebelum pemasangan tarub diadakan sesaji khusus yang terdiri dari : nasi tumpeng, berbagai macam buah-buahan termasuk pisang dan kelapa, berbagai macam lauk-pauk, kue-kue, minuman, bunga, jamu, tempe, daging kerbau, gula kelapa dan sebuah lentera, (tergantung yang punya hajat, perlu tidaknya sesaji tersebut).
      Sajian ini melambangkan permohonan supaya mendapatkan berkah dari Tuhan dan restu dari para leluhur, sekaligus sebagai sarana untuk menolak gangguan mahluk-mahluk halus jahat. Sesaji ini ditempatkan dibeberapa tempat  seperti didapur, kamar mandi, pintu depan, dibawah tarub,dan dijalan dekat rumah.

2. Kembar Mayang
Berasal dari kata "kembar" artinya sama dan "mayang" artinya bunga pohon jambe atau sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasanya menghiasi panti atau asasana wiwara yang digunakan dalam acara penebusing kembar mayang dan upacara panggih. Bila acara sudah selesai, kembar mayang akan dibuang diperempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua mempelai selalu ingat asal muasal hidup ini yaitu Bapak dan Ibu sebagai perantara Tuhan Yang Maha Kuasa. Adapun barang-barang untuk kembar mayang yaitu sebagai berikut:
  • Batang pisang, 2-3 potong untuk hiasan, biasanya diberi alas dari tabung yang terbuat dari kuningan.
  • Bambu aur untuk penusuk (sujen) secukupnya
  • Janur kuning, sekitar 4 pelepah
  • Daun-daunan, yaitu: daun kemuning, beringin beserta ranting-rantingya, daun apa-apa, daun girang dan daun andong.
  • Nanas dua buah, pilih yang sudah masak dan sama besarnya
  • Bunga melati, kanthil dan mawar putih
  • Kelapa muda dua buah, dikupas kulitnya dan airnya jangan sampai tumpah, bawahnya dibuat rata atau datar agar kalau diletakkan tidak terguling dan air tumpah.
Gambar kembang mayang

3. Pasang tuwuhan (Pasren)
Tuwuhan dipasang di pintu masuk menuju tempat duduk pengantin. Tuwuhan biasanya berupa tumbuh-tumbuhan yang melambangkan isi alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa. Berikut adalah makna dalam tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada tuwuhan:
  • Janur: harapannya agar pengantin memperoleh nur atau cahaya terang dari Yang Maha Kuasa.
  • Daun kluwih: semoga hajatan tidak kekurangan sesuatu, jika mungkin malah dapat lebih (luwih) dari yang diperhitungkan.
  • Daun beringin dan ranting-rantingnya: diambil dari kata "ingin" artinya harapan, cita-cita atau keinginan yang didambakan mudah-mudahan selalu terlaksana.
  • Daun dadap serep: berasal dari suku kata "srep" artinya dingin, sejuk, teduh, damai, tenang tidak ada gangguan apapun.
  • Seuntai padi (pari sewuli): melambangkan semakin berisi semakin merunduk. Diharapkan semakin berbobot dan berlebih hidupnya, semakin ringan kaki dan tangan, dan selalu membantu sesama yang kekurangan.
  • Cengkir gadhing; air kelapa muda (banyu degan), adalah air suci bersih, dengan lambang ini diharapkan cinta mereka tetap suci sampai akhir hayat.
  • Setandan pisang raja (setundung gedhang raja suluhan): semoga kelak mempunyai sifat seperti raja hambeg para marta, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
  • Batang tebu hitam (tebu wulung watangan): kemantapan hati (anteping kalbu), jika sudah mantap menetukan pilihan sebagai suami atau istri, tidak tengok kanan-kiri lagi.
  • Bunga dan buah kapas (kembang lan wah kapas): harapanya agar kedua pengantin kelak tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Selalu pas, tapi tidak pas-pasan.
  • Bunga setaman yang ditanam di air dalam bokor (kembang setaman dibokor: harapannya agar kehidupan kedua pengantin selalu cerah ibarat bunga ditaman.


4. Siraman
     Upacara siraman mengandung arti memandikan calon pengantin yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir batin.
     Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk siraman:
  • Persiapan tempat untuk siraman apakah dilakukan dikamar mandi atau dihalaman rumah belakang atau samping.
  • Daftar orang-orang yang akan ikut memandikan. Sesuai tradisi selain kedua orang tua penganten, eyang penganten, beberapa pinisepuh. Yang diundang untuk ikut memandikan adalah mereka yang sudah sepuh, yang sudah mempunyai cucu dan punya reputasi kehidupan yang baik.
  • Barang-barang yang diperlukan: tempat air, gayung, kursi, kain, handuk, kendi,  kembang setamanair (yaitu: air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang ditaburi bunga setaman yang terdiri dari mawar, melati dan kenanga)
  • Sesaji untuk siraman, ada lebih dari sepuluh macam, diantaranya adalah seekor ayam jago.
  • Pihak keluarga pengantin putri mengirimkan sebaskom air kepada pihak keluarga penantin pria. Air itu disebut air suci perwitosari (sari kehidupan), yaitu air yang dicampur dengan beberapa macam bunga yang ditaruh dakam wadah yang bagus, untuk dicampurkan dengan air untuk memandikan pengantin pria.




Tahapan upacara Siraman:
  • Calon pengantin mohon doa restu kepada orang tuanya
  • Calon menantu duduk ditikar pandan tempat siraman
  • Calon pengantin disiram oleh pinisepuh, orang tuanya dan beberapa wakil yang ditunjuk
  • Pihak terakhir yang memandikan pengantin adalah pamaes, yang menyirami calon pengantin dengan air dari sebuah kendi. Ketika kendi telah kosong, pemaes atau seorang pinisepuh yang ditunjuk, membanting kendi dilantai sambil berkata "Niat ingsun ora mecah kendi nangin mecah pamore anaku wadon".
  • Upacara siraman selesai, calon pengantin dengan mengenakan kain batik motif grompol dan tubuhnya ditutupi dengan kain batik motif nagasari, dituntun kembali keruang pelaminan. Calon pengantin putri akan dikerik oleh pemaes.




5. Gendhongan
Kedua orangtua pengantin wanita menggendong anak mereka yang melambangkan ngentaske yang artinya menuntaskan.



6. Ngerik
Ngerik artinya rambut-rambut kecil diwajah calon pengantin wanita dengan hati-hati di kerik oleh pemaes. Rambut penganti wanita dikeringkan kemudian diasapi dengan ratus/dupa wangi. Selanjutnya perias mulai merias calon pengantin. Wajahnya dirias dan rambutnya disanggul sesuai dengan pola upacara perkawinan yang telah ditentukan. Setelah selesai dirias pengantin didandani dengan kebaya yang telah disiapkan dan kain batik motif sidomukti dan sidoasih, yang melambangkan dia akan hidup makmur dan dihormati sesama.
   Dan malam itu ayah dan ibu calon mempelai putri memberikan suapan terkhir kepada putrinya, karena mulai besok dia sudah berada dibawah tanggung jawab suaminya.



7. Adol Dhawet
Upacara ini dilakukan setelah siraman. Penjualnya adalah ibu calon pengantin putri yang dipayungi oleh Bapak calon pengantin putri. Para pembelinya adalah para tamu dengan uang pecahan genting (kreweng). Upacara ini mengandung harapan agar nanti pada saat upacara panggih dan resepsi banyak tamu dan rezeki yang datang.



8. Temu Panggih
Temu panggih adalah penyerahan pisang sanggan berupa gedung ayu sebagai tebusan atau syarat untuk pengantin perempuan.

9. Penyerahan Cikal
Yaitu bermakna sebagai tanda agar kehidupan mendatang menjadi orang yang berguna dan tak kurang suatu apapun.

10. Penyerahan Jago Kisoh
Mempunyai makna sebagai tanda melepas anak dengan penuh ikhlas.

11. Tukar Manuk Cengkir Gading
Yaitu acara tukar menukar kembang mayang yang diawali dengan tukar menukar cengkir gading, sebagai simbol agar kedua pengantin menjadi pasangan yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.

12. Midodareni
     Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yaitu malam melepas masa lajang bagi kedua calon pengantin. Acara ini dilakukan dirumah calon pengantin perempuan. Dalam acara ini ada acara nyantrik untuk memastikan calon pengantin laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan sebagai bukti bahwa keluarga calon pengantin perempuan benar-benar siap melakukan prosesi pernikahan dihari berikutnya. Midodareni berasal dari kata "widodareni" (bidadari), lalu menjadi "midodareni" yang berarti membuat keadaan calon pengantin seperti bidadari. Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan ketampanan calon pengantin diibaratkan seperti Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya.
       Dimalam midodareni, orangtua dan keluarga calon pengantin putri menerima kunjungan dari orangtua dan keluarga calon pengantin pria. Mereka duduk didalam rumah, saling berkenalan dan makan bersama. Calon pengantin pria juga datang tetapi dia tidak boleh masuk rumah dan hanya boleh duduk diserambi depan rumah. Diapun hanya disuguhi segelas air minum dan tidak boleh makan dan minum yang lain. Hal ini bemakna untuk melatih kesabaran seorang suami yang akan menjadi kepala keluarga

13. Nyantri
    Sewaktu rombongan keluarga pengantin pria pulang dari upacara midodareni, calon pengantin pria juga ikut pulang, tetapi bila calon mempelai pria nyantri, maka dia ditinggal dirumah calon mertuanya. Beginilah tata cara orangtua calon mempelai pria melalui juru bicara keluarga mengatakan kepada orangtua calon mempelai wanita, bhawa calon mempelai pria tidak diajak pulang dan menyerahkan tanggungjawab kepada orangtua calon mempelai putri. Setelah keluarganya pulang, saat tengah malam dia dipersilahkan masuk rumah untuk makan, tetapi tidak boleh bertemu dengan calon istrinya, dan setelah itu diantar ke kamar tidur untuk istirahat.
       Nyantri dilakukan untuk keamanan acara pernikahan mengingat besok pagi mempelai pria  sudah harus dirias untuk pelaksanaan ijab kabul/pernikahan, maka kedua calon mempelai sudah harus berada disatu tempat.

BABAK V
TAHAP PUNCAK ACARA

1. Ijab Qobul
      Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab qobul yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri. Saat ijab qobul, ibu dari kedua pihak, tidak memakai subang atau giwang(anting) guna memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa menikahkan anak.

2. Upacara Panggih
Adapun tata cara urutan upacara panggih yaitu:
  • Liron kembar mayang, yaitu saling tukar kembar mayang antar pengantin, yang bermakna menyatukan cipta, rasa, dan karsa untuk bersama-sama mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan.
  • Gantal, yaitu daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang kemudian saling dilempar oleh masing-masing pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu
  • Ngidak endhog, yaitu pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya
  • Pengantin putri mencuci kaki pengantin putra dengan air bunga setaman, yang bermakna semoga benih yang diturunkan bersih dari segala perbuatan yang kotor.
  • Minum air degan, air ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani(manikem).
  • Dikepyok dengan bunga warna-warni, mengandung harapan semoga keluarga yang akan mereka bina dapat berkembang segala-galanya dan bahagia lahir batin.
  • Masuk ke pasangan, bermakna pengantin yang telah menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
  • Sindur, atau isin mundur, artinya pentang menyerah atau pantang mundur, maksudnya adalah pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar.
  • Timbangan, yaitu kedua pengantin duduk dipangkuan ayah pengantin wanita sebagi simbol sang ayah mengukur keseimbangan masing-masing pengantin.
  • Tanem, ayah menduduki sepasang pengantin dikursi pelaminan, hal itu untuk memperkuat  persetujuanya terhadap perkawinan itu dan memberikan restunya.
  • Tukar kalpika, yaitu mula-mula pengantin pria meninggalkan kamarnya dengan diapit oleh anggota keluarga laki-laki (saudara laki-laki dan paman), dan seorang anggota keluarga yang dihormati terpilih untuk berperan sebagai kepala rombongan. Pada waktu yang sama pengantin perempuan juga meninggalkan kamar sambil diapit oleh saudara-saudara perempuanya untuk menemui pengantin pria. Sekarang kedua pengantin duduk dimeja dengan wakil-wakil dari masing-masing keluarga dan kemudian saling menukar cincin sebagai tanda cinta.
  • Kacar-kucur,  yang memiliki makna bahwa pengantin pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga. Dalam ritual ini suami memberikan kepada istri berupa: kacang, kedelai, beras, jagung, nasi kuning, dlingo bengle, beberapa macam bunga dan uang logam dengan jumlah genap. Istri menerima dengan segenap hati dengan segenap hati dengan  selembar kain putih yang ditaruh diatas selembar tikar tua yang diletakkan diatas pangkuannya. Artinya istri akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan berhati-hati.
  • Dulangan atau kedua pengantin saling menyuapi, mengandung kiasan laku memadu kasih pasangan laki-laki dan perempuan (simbol seksual). Ada juga yang memaknai lain, yaitu tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng. Makna dari kesembilan tumpeng tersebut yaitu:
          - Tumpeng tunggarana: agar selalu ingat kepada yang memberi hidup
          - Tumpeng puput: berani mandiri
          - Tumpeng bedhah negara: bersatunya pria dan wanita
          - Tumpeng sangga langit: berbakti kepada orang tua
          - Tumpeng kidang soka: menjadi besar dari kecil
          - Tumpeng pangapit: suka duka adalah wewenang Tuhan Yang Maha Esa
          - Tumpeng manggada: segala yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi
          - Tumpeng pangruwat: berbaktilah kepada mertua
          - Tumpeng kesawa: nasihat agar rajin bekerja
  • Rujak Degan, adalah acara untuk anak pertama, memohon supaya segera memiliki anak, Rujak degan artinya agar dalam pernikahan selalu sehat sejahtera.
  • Tumplak Punjen, artinya adalah semua anak yang dipunji (menjadi tanggung jawab orang tua) telah dimantukan (ditumplak). Secara umum acara tumplak punjen adalah dengan cara menumpahkan punjen (pundi-pundi) yang berisi peralatan tumplak punjen.



Kamis, 18 Februari 2016

Mengenal Ragam Tarian Tradisional di Jawa Tengah

       Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya,  salah satunya yang akan saya bahas disini adalah tentang beberapa tarian tradisional yang berasal dari daerah saya yaitu Jawa Tengah.

1. Tari Serimpi 
        Tari Serimpi adalah tarian yang populer dan bersifat sakral di Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat (Jogjakarta) dan Keraton Surakarta Hadiningrat (Solo). Tari Serimpi identik dengan kelemah lembutan, kesopanan, gambaran kehalusan budi dalam gerak yang pelan dan anggun mengalir bersama alunan musik gamelan Jawa.
       Pengertian dari Tari Serimpi ini  merupakan tarian yang dibawakan oleh 4 orang penari, istilah serimpi sendiri berarti empat, bilangan tersebut mewakili empat mata angin dan empat unsur dunia yang meliputi grama ( api), angin (udara), toya (air) dan bumi (tanah). Setiap penari juga telah mendapatkan nama - nama tersendiri yakni Batak, Gulu, Dhada dan Buncit, dengan komposisi penari berbentuk segi empat yang melambangkan empat buah sisi tiang pendopo. Pendapat lain menurut Dr. Priyono, nama Serimpi diartikan "impi" atau "mimpi", maksudnya adalah ketika menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang 3/4 hingga 1 jam itu para penonton seperti dibawa kealam lain , yakni alam mimpi. 


      Dalam pagelarannya tarian ini menggambarkan peperangan pahlawan - pahlawan dalam cerita Menak, Purwa, Mahabarata, Ramayana dalam sejarah Jawa, atau dapat juga dikatakan sebagai tarian yang mengisahkan pertempuran yang dilambangkan dalam dua kubu (satu kubu terdidi dari dua orang penari) yang terlibat dalam suatu peperangan. adegan yang ditampilkan pada Tari Serimpi sebenarnya sama dengan Tari Bedhaya Sanga, yaitu menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dan buruk, antara benar dan salah, serta antara akal manusia dan nafsunya. Senjata yang digunakan dalam tarian ini antara lain berupa keris kecil atau cundrik, jembeng (semacam perisak), dan tombak pendek. Pada zaman pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII, yaitu pada abad ke-19, ada pula tari Serimpi yang senjatanya berupa pistol yang ditembakkan kearah bawah.



  Tari Serimpi juga dibagi dalam  beberapa jenis, di Kesultanan Yogyakarta didapati Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, dan Serimpi Genjung, di Kesultanan Surakarta digolongkan menjadi , Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Bondan, 

   Macam - macam Tari Serimpi:
  • Tari Serimpi China ( tari putri klasik di Istana Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pakaian China)
  • Tari Serimpi Padhelori ( diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VI dan VII )
  • Tari Serimpi Pistol ( diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VII )
  • Tari Serimpi Merak Kasimpir ( diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VII )
  • Tari Serimpi Renggawati ( diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana V, dengan 5 penari )
  • Tari Serimpi Pramugari ( diciptakan oleh Sultan Hamenku Buwana VII )
  • Tari Serimpi Sangopati ( diciptakan oleh Pakubuwana IV )
  • Tari Serimpi Anglirmendhung ( diciptakan oleh R.T. Warsadiningrat,Serimpi Anglirmendhung ini yang awalnya 7 penari diubah menjadi 4 penari oleh K.G.P.A.A Mangkunagara I )
  • Tari Serimpi Ludira Madu ( diciptakan oleh Pakubuwana V )

2. Tari Bambangan Cakil
         Tari Bambangan Cakil diadopsi dari cerita pewayangan, adegan yang diadopsi adalah Perang Kembang, yang menceritakan peperangan antara kesatria dan raksasa atau peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Kedua sifat tersebut digambarkan dalam gerakan tokoh dalam tarian tersebut. Dimana kebaikan yang ada pada tokoh kesatria digambarkan dengan gerakan yang bersifat halus dan lemah lembut. Sementara kejahatan dalam tokoh raksasa digambarkan dengan gerakan yang bersifat kasar dan beringas. Tokoh pewayangan yang digunakan dalam tarian ini adalah Arjuna sebagai kesatria dan Cakil sebagai raksasa. Tarian ini mengandung nilai filosofi yang tinggi dimana kejahatan dan keangkaramurkaan akan kalah dengan kebaikan.



      Dalam pertunjukannya biasanya tari Bambangan Cakil biasanya tidak hanya dimainkan oleh 2 orang saja, namun ada beberapa peran pendukung seperti pasukan raksasa dan penari wanita sebagai pasangan kesatria. Peran pendukung tersebut biasanya dimainkan pada awal pertunjukan agar pertunjukan terlihat tidak kaku dan lebih menarik. Tarian ini diiringi oleh iringan Gendhing Srempengan, Ladrang Cluntang Sampak Laras Slendro. Tari Bambangan Cakil ini sering ditampilkan pada berbagai acara budaya, penyambutan tamu kehormatan atau festival budaya.

3. Tari Gambyong 
      Tari Gambyong adalah salah satu bentuk tarian dari Surakarta Jawa Tengah. Nama tarian ini diberikan sesuai dengan nama penciptanya yaitu Mas Ajeng Gambyong/M.A Gambyong, yakni salah satu penari wanita dan kerap pula disebut sebagai Warangganal/Ledhek oleh masyarakat Jawa pada kisaran tahun 1500.
        Secara filosofis gerakan dalam tarian ini memiliki makna menggambarkan kecantikan dan kelembutan wanita Jawa Tengah, dengan kata lain Tari Gambyong menggambarkan seorang wanita dengan sikap lincah, luwes, gembira, genit, dan juga lemah gemulai. Musik pengiring tarian ini adalah gamelan Jawa. 

        
      Tarian ini biasanya dipentaskan sebagai hiburan diberbagai acara seperti tasyakuran, pernikahan, sunatan, dan lain sebagainya.

4. Tari Sintren
      Tari Sintren adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari pesisir utara pantai Jawa Tengah .Selain gerak tarinya, tarian ini juga terkenal dengan unsur mistis didalamnya karena adanya ritual khusus untuk pemanggilan roh atau dewa. Menurut sejarahnya, tarian ini berawal dari percintaan Raden Sulandono dan Sulasih yang tidak mendapat restu Raden Sulandono, sehingga Raden Sulandono di perintahkan oleh ibunya untuk bertapa dan di berkan selembar kain sebagai sarana kelak untuk bertemu Sulasih setelah pertapaanya selesai. Sedangkan Sulasih di perintahkan untuk menjadi penari di seiap acara bersih desa yang diadakan sebagai syarat untuk bertemu Raden Sulandono. Malam itu saat bulan purnama, Raden Sulandono pun turun dari pertapaanya dengan cara bersembunyi - sembunyi sambil membawakan kain yang diiberikan oleh ibunya . Pada saat Sulastri menari, dia pun dirasuki oleh kekuatan Dewi Rantamsari sehingga mengalami trance. Melihat seperti itu Raden Sulandono pun melemparkan kain tersebut sehingga Sulasih pun pimgsan. Dengan kekuatan yang dimiliki Raden Sulandono maka Sulasih dapat dibawa kabur dan keduanya mewujudkan cita - citanya untuk bersatu dalam cinta. Sejak saat itulah sebutan Sintren dan Balangan muncul sebagi cikal bakal Tari Sintren ini. Istilah Sintren adalah keadaan saat penari menglami kesurupan atau trance. Dan istilah Balangan adalah saat Raden Sulandono melemparkan kain yang di berikan oleh ibunya.




     Dalam pertunjukan  Tari Sintren biasanya diawali dengan Dupan, yaitu ritual berdoa bersama untuk memohon perlindungan dari mara bahaya kepada Tuhan selama pertunjukan berlangsung. Ada beberapa bagian dalam pertunjukan Tari Sintren, yaitu Paripurna, Balangan, dan Temohon.  Berikut adalah penjelasanya:
  • Paripurna

Pada bagian Paripurna adalah bagian dimana pawang menyiapkan seseorang yang akan dijadikan Sintren yang masih memakai pakaian biasa. Pada bagian ini di awali dengan membacakan mantra dengan meletakkan kedua tangan calon penari Sintren di atas asap kemenyan, setelah itu penari di ikat dengan tali di seluruh tubuhnya, kemudian calon penari Sintren dimasukan ke dalam sangkar ayam bersama dengan busana dan perlengkapan riasnya. Ketika sudah jadi maka akan di tandai dengan kurungan (sangkar ayam) yang bergetar dan kurungan akan di buka, penari Sintren tersebut pun sudah siap untuk menari.
  • Balangan

Pada bagian Balangan adalah saat penonton melemparkan sesuatu kearah penari Sintren.Saat penari terkena lemparan itu maka penari Sintren itu akan pingsan, lalu pawang mendatangi penari yang pingsan tersebut dan membacakan mantra dan mengusap wajah penari agar roh bidadari datang lagi dan melanjutkan menarinya. Penonton yang melemparnya tadi di perbolehkan untuk menari dengan penari Sintren.
  • Temohon

Pada bagian Temohon adalah bagian dimana para penari Sintren dengan nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terimakasih.



    Untuk menjadi penari Sintren ada beberapa syarat yang harus dimiliki calon penari, terutama sebagai penari Sintren harus masih gadis atau masih perawan karena penari sintren harus dalam keadaan suci. Selain itu para penari Sintren juga di wajibkan berpuasa terlebih dahulu, agar tubuh si penari tetap dalam keadaan suci dan menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa dan berzina, sehingga menyulitkan bagi roh atau dewa yang akan masuk dalam tubuhnya.
    
5. Tari Ebeg ( Kuda Lumping )
       Ebeg atau Kuda Lumping merupakan bentuk kesenian tari dari daerah Banyumas  Jawa Tengah yang menggunakan  boneka kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan kepalanya diberi ijuk sebagai rambut. Tarian ini menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Kesenian Ebeg ini diperkirakan sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan adalah bentuk - bentuk in trance (kesurupan) atau wuru, yang terdapat dalam tarian Ebeg tersebut.




      Dalam pertunjukannya, penari Ebeg biasanya terbagi menjadi 3 bagian. Pada bagian pertama biasanya dilakukan oleh beberapa penari wanita, dengan menunggangi kuda mereka menari dengan gerakan yang lembut dan dinamis. Kemudian pada bagian kedua, biasanya dimainkan oleh beberapa penari pria. Pada bagian ini para penari menari dengan gerakan menggambarkan keberanian para prajurit penunggang kuda di medan pertempuran. Dan yang terakhir adalah bagian yang dimainkan oleh beberapa penari pria yang menunggangi kuda. Sambil memainkan pecut, mereka menari mengikuti iringan musik. Pada bagia ini beberapa penari mengalami kesurupan dan dengan keadaan tidak sadar mereka melakukan beberapa atraksi berbahaya seperti memakan beling, menyayat diri, berjalan diatas pecahan kaca dan beberapa atraksi berbahaya lainnya.


         Dalam pertunjukan Ebeg ini biasanya dikawal oleh beberapa pawang atau dukun untuk mengantisipasi hal - hal yang tidak diinginkan. Sebelum pertunjukan dimulai biasanya ada beberapa ritual yang dilakukan olehpara dukun yaitu memberikan sesaji dan membacakan doa agar dijauhkan dari mara bahaya. Selain melakukan ritual, dukun juga ditugaskan untuk mengawal para penari yang kesurupan saat melakukan atraksi agar tidak terjadi hal - hal yang tidak di inginkan dan menyembuhka para penari dari keadaan kesurupan.
        Ebeg dianggap kesenian yang murni berasal dari Banyumas Jawa Tengah, karena ebeg sama sekali tidak menceritakan tokoh tertentu dan tidak terpengaruhi agama tertentu, baik Hindu mupun Islam. Bahkan dalam lagu - lagu yang mengiringi pertunjukan tari Ebeg ini justru menceritakan tentang kehidupan masyarakat tradisional, terkadang berisi pantun, wejangan hidup dan menceritakan tentag kesenian Ebeg itu sendiri. Lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan Ebeg hampir keseluruhan menggunakan bahasa Jawa Banyumasan atau biasa disebut Ngapak lengkap dengan logat khasnya. Beberapa contoh lagu - lagu pengiring Ebeg yang sering dinyanyikan adalah Sekar Gadung, Eling - Eling, Ricik - Rikcik Banyumasan, Tole - Tole, Waru Doyong, Ana Maning Modele Wong Purbalingga, dll.

6. Tari Bedhaya Ketawang 
       Tari Bedhaya Ketawang adalah tarian kebesaran yang hanya di pertunjukan ketika penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja di Kasunan Surakarta. Tarian ini merupakan tarian sakral yang suci bagi masyarakat dan Kasunanan Surakarta. 
       Sebagai tarian sakral, ada beberapa syarat yang harus dimiliki setiap penarinya. Syarat yang paling utama yaitu para penari harus seorang gadis suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid maka penari harus meminta ijin kepada Kanjeng Ratu Kidul terlebih dahulu dengan melakukan caos dhahar di panggung sanga buwana, Keraton Surakarta. Hal ini dilakukan dengan berpuasa selama beberapa hari menjelang pertunjukan . Kesucian para penari sangat penting, karena konon katanya saat latihan berlangsung, Kanjeng Ratu Kidul akan datang menghampiri para penari jika gerakanya masih salah.



      Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613 - 1646) dengan latar belakang mitos percintaan raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kanjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan). Pada perkembanganya budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk - bentuk tari yang muncul pada jaman Majapahit ini. Tari Bedhaya Ketawang yang awalnya 7 orang penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam, tepatnya sejak Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap - Alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang.



7. Tari Bondan
    Tari Bondan adalah tarian tradisional yang menggambarkan tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Tarian ini berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Yang menjadi ciri khas dari Tari Bondan ini adalah properti yang digunakan, yaitu payung kertas, kendil dan boneka bayi yang di gendong penari.
     Menurut sejarahnya, Tari Bondan merupakan tarian yang wajib dimainkan pleh para kembang desa untuk menunjukan jati dirinya. Dengan tarian ini maka akan terlihat bagaimana mereka saat menjadi seorang ibu dan mengasuh anak mereka. Sehingga sebagai wanita tidak hanya berparas cantik tapi juga harus bisa mengasuh, memberikan kasih sayang dan melindungi anaknya.


      Dalam pertunjukanya, para penari Tari Bondan menari dengan menggendong boneka bayi dengan satu tangan sementara satunya memegang payung kertas. Dalam Tari Bondan ini umumnya memilik makna yang tersirat pada setiap gerakannya. Sau adegan yang menjadi ciri khas adalah saat para penari menari diatas sebuah kendil. Pada adegan satu ini penari harus menjaga keseimbangan mereka di atas  kendil agar kendil yang dipijak tidak pecah. Selain itu para penari juga harus menari di atas kendil sambil memutar - mutar kendil yang di injak serta memainkan payung yang dibawanya.



8. Tari Lengger
     Tari Lengger adalah salah satu tarian tradisional dari Jawa Tengah yang di maikan oleh seorang laki - laki dan seorang perempuan. Tarian ini merupakan pengembangan dari tarian sebelumnya yaitu tari Tayub.
  

   Dalam tarian ini terdapat beberapa babak, setiap babak biasanya dimainkan dalam waktu 10 menit. Keunikan dalam tarian ini juga terletak pada kostum penarinya, pada penari wanita biasanya menggunakan baju tradisional dengan selendang yang di gunakan untuk menari dan penari laki - laki tampil dengan menggunakan topeng. Tari Lengger biasanya ditampilkan pada acara hajatan, hari besar. penyambutan tamu kehormatan dan festival budaya di Jawa Tengah.


    Nah, cukup sekian  itulah beberapa pengenalan tentang tarian tradisional yang berasal dari Jawa Tengah . Semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan tentang tarian tradisional di Indonesia khususnya Jawa Tengah.







Senin, 01 Februari 2016

Kisah Klasik Putih Abu - Abu



      Sekilas tentang aku yaa.... Nama lengkap aku Syamsiyah Wijayanti biasa di panggil Yanti atau Wiyanti, aku lahir di Kebumen, 25 Mei 1994. Aku lulus dari SMA tahun 2012 dari SMA Negeri 1 Rowokele (IPA 1).
      Ini adalah sedikit kenang - kenangan masa SMA aku bersama teman - teman aku, bisa di tonton di youtube dengan klik link di bawah ini :
https://www.youtube.com/watch?v=kn9PaHx097Q&list=LLmvbh7QN_TJ1JY0izP_o9_Q&index=13

Sabtu, 30 Januari 2016

Sepenggal cerita di Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta 17 Mei 2015)



Yeaayyy... jalan - jalan kita di TMII bareng Ka Esther, Ka Harboot, Ka Ikky, & Putra, selebihnya tonton aja yaa videonyaa.... 

Movie Freak Family

 

          Movie Freak Bekasi yang dibentuk sejak tanggal 25 Oktober 2014 sejak tanggal 29 Maret 2015 berganti nama menjadi Movie Freak Family, karena ada suatu masalah yang menyebabkan club ini terpecah menjadi dua. Di Movie Freak Family ini ada pergantian owner baru yaitu digantikan oleh Hendri Adrian Raharja (Harboot Machiato), yang tadinya dipegang oleh Irwan Ahrif dan Admin masih tetap sama yaitu Esther Ananta. Jika kalian ada yang ingin bergabung bersama kami pastikan kalian sudah memiliki akun Beetalk, kalau belom bisa download dulu di Play Store. Naah... bagi kalian yang sudah punya akun Beetalk kalian bisa langsung cari di pencarian club "Movie Freak Family", dengan ID Beetalk : 719965 . Atau bisa follow Instagram kami IG ; moviefreakfamily. Kami selalu mengadakan acara nonton bareng tiap seminggu sekali dan pastinya selalu ada keseruan ditiap pertemuan.      
         Berikut video kegiatan kami yang bisa kalian tonton atau kalian akses di youtube, klik link dibawah ini ya... :

1. Movie Freak Bekasi edisi Oktober 2014 - Desember 2014
   https://www.youtube.com/watch?v=mrSSYh5JlDo

2. Movie Freak Bekasi edisi Januari 2015 - Maret 2015
   https://www.youtube.com/watch?v=1yuFNsKKO_0

3.  Movie Freak Family Jalan - Jalan ke Kota Tua Jakarta 10 Mei 2015
  https://www.youtube.com/watch?v=i7lO0kIaF4I

4. Movie Freak Family edisi April 2015 - Mei 2015
  https://www.youtube.com/watch?v=trYhimKys6o

5. Movie Freak Family edisi Juni 2015 - Juli 2015
https://www.youtube.com/watch?v=x7LTBqMWWAo

6. Movie Freak Family edisi Agustus 2015 - September 2015
https://www.youtube.com/watch?v=x7LTBqMWWAo&list=RDx7LTBqMWWAo#t=5

7. Movie Freak Family edisi Oktober 2015 - November 2015
https://www.youtube.com/watch?v=mbXxunsA1KU&index=3&list=RDx7LTBqMWWAo

8. Movie Freak Family edisi Desember 2015 - Januari 2016
https://www.youtube.com/watch?v=2rN6IlA8bYk





Movie Freak Bekasi edisi Januari 2015 - Maret 2015



   Movie Freak Family eps. 1 (April 2015 - Mei 2015)




Movie Freak Family eps. 2 (Juni 2015 - Juli 2015)





Movie Freak Family eps. 3 (Agustus 2015 - September 2015)




Movie Freak Family eps. 4 (Oktober 2015 - November 2015)





Movie Freak Family eps. 5 (Desember 2015 - Januari 2016)



Movie Freak Bekasi (Oktober 2014 - Maret 2015)



  Movie Freak Bekasi adalah salah satu komunitas pecinta film di daerah bekasi dan jakarta, Movie Freak sendiri di bentuk pada tanggal 25 Oktober 2014 dengan Ownernya Irwan Ahraf dan Admin Esther Ananta, Awal terbentuknya adalah dari sekelompok remaja yang memiliki hobi menonton film. Movie Freak Bekasi adalah salah satu club di sebuah jaringan sosial media (Beetalk).
   Untuk video perjalanan tentang kami bisa kalian tonton di youtube saya Wiyanti Wie, atau bisa klik link dibawah ini :

1. Movie Freak Bekasi edisi Oktober 2014 - Desember 2014
https://www.youtube.com/watch?v=mrSSYh5JlDo

2. Movie Freak Bekasi edisi Januari 2015 - Maret 2015
https://www.youtube.com/watch?v=1yuFNsKKO_0